Jakarta, 10 September 2026 – Kecelakaan maut terjadi di Jalan Tol Wiyoto Wiyono Kilometer 20.200 A, Jakarta Utara, setelah sebuah truk wing box tronton menghantam kendaraan operasional dan sejumlah pekerja yang tengah melakukan pemeliharaan jalan. Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 9 September 2026 sekitar pukul 23.40 WIB tersebut mengakibatkan tiga pekerja meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka. Polisi menduga kecelakaan dipicu pengemudi truk yang mengalami microsleep atau tertidur sesaat ketika melaju dari arah Tanjung Priok menuju Pluit. Truk kemudian menabrak kerucut lalu lintas yang telah dipasang di area pekerjaan sebelum menghantam kendaraan pikap operasional beserta pekerja di sekitarnya. Benturan keras menyebabkan kendaraan proyek mengalami kerusakan parah dan sejumlah pekerja terpental dari area pekerjaan. Polisi telah mengamankan pengemudi truk dan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan seluruh faktor yang menyebabkan kecelakaan tersebut.
Kecelakaan bermula ketika truk wing box tronton bernomor polisi B 9334 DU yang dikemudikan FYA, 28 tahun, melaju di lajur satu Tol Wiyoto Wiyono dari Tanjung Priok menuju Pluit. Ketika tiba di Kilometer 20.200 jalur A, pengemudi diduga kehilangan konsentrasi karena mengalami tidur sesaat. Dalam kondisi tersebut, kendaraan terus bergerak hingga menerobos traffic cone yang berfungsi sebagai pembatas dan penanda adanya pekerjaan jalan. Truk selanjutnya menghantam kendaraan pikap operasional bernomor polisi B 9468 UAO yang berada di lokasi pekerjaan bersama para pekerja pemeliharaan. Peristiwa berlangsung sangat cepat sehingga pekerja yang berada di sekitar kendaraan tidak memiliki banyak kesempatan untuk menghindar. Polisi kemudian menerima laporan kecelakaan dan petugas segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan pertolongan, pengamanan, serta pengaturan arus kendaraan.
Tiga pekerja yang meninggal dunia diketahui bernama Suroto, Yunus, dan Baharudin. Suroto yang bertugas sebagai pengawas beton dan pemeliharaan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka yang dialaminya. Yunus yang merupakan tenaga harian lepas juga meninggal di tempat setelah terkena dampak benturan. Sementara Baharudin sempat dievakuasi menuju RSUD Koja untuk mendapatkan penanganan medis, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia. Dua pekerja lainnya, yakni Sugito dan Akbar, berhasil selamat meskipun mengalami luka akibat kecelakaan tersebut. Seluruh korban kemudian ditangani oleh petugas bersama pihak pengelola jalan tol sebelum proses penyelidikan kecelakaan dilanjutkan.
Sugito mengalami luka pada sejumlah bagian tubuh, termasuk punggung, kepala, tangan, dan kaki kanan sehingga membutuhkan pemeriksaan serta perawatan medis. Sementara Akbar mengalami keseleo dan luka lecet setelah terpelanting hingga jatuh ke Kali Ancol yang berada di bawah kolong jalan tol. Kondisi lokasi kecelakaan yang berada di jalan layang membuat proses penanganan korban membutuhkan kehati-hatian tambahan. Petugas harus memastikan area aman dari kendaraan lain sekaligus melakukan evakuasi terhadap korban yang berada di sekitar titik benturan. Polisi bersama petugas pengelola tol juga menutup dan mengamankan sebagian area untuk mencegah kecelakaan lanjutan ketika proses pertolongan berlangsung. Setelah para korban berhasil dievakuasi, petugas melanjutkan pemeriksaan terhadap posisi kendaraan, bekas benturan, dan berbagai tanda yang terdapat di permukaan jalan.
Dampak benturan terlihat pada kedua kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan. Bagian depan truk wing box tronton mengalami kerusakan setelah menghantam area pekerjaan dan kendaraan operasional. Sementara bagian belakang pikap proyek mengalami kerusakan jauh lebih berat akibat menerima hantaman kendaraan besar dari belakang. Posisi akhir kendaraan serta kondisi kerusakan menjadi bagian yang diperiksa polisi dalam olah tempat kejadian perkara. Petugas juga mengamankan barang bukti yang dianggap berkaitan dengan kecelakaan untuk membantu proses penyelidikan. Setelah pemeriksaan awal selesai, kedua kendaraan dievakuasi dari lokasi agar tidak menghambat arus lalu lintas di Tol Wiyoto Wiyono. Penanganan perkara berikut barang bukti selanjutnya diserahkan kepada Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Utara.
Dugaan microsleep menjadi salah satu fokus utama dalam penyelidikan karena keterangan awal menunjukkan pengemudi kehilangan konsentrasi sesaat sebelum tabrakan. Microsleep merupakan kondisi ketika seseorang tertidur dalam waktu sangat singkat tanpa sepenuhnya menyadarinya, terutama ketika tubuh mengalami kelelahan atau kurang tidur. Dalam situasi berkendara, kondisi tersebut sangat berbahaya karena pengemudi dapat kehilangan kemampuan mengendalikan kendaraan meskipun hanya selama beberapa detik. Risiko menjadi semakin besar ketika kendaraan yang dikemudikan memiliki ukuran dan bobot besar seperti truk tronton. Pada kecepatan tertentu, beberapa detik tanpa kendali sudah cukup membuat kendaraan menempuh jarak puluhan meter. Polisi tetap perlu melakukan pemeriksaan lebih mendalam untuk mengetahui kondisi pengemudi sebelum perjalanan, durasi berkendara, waktu istirahat, serta faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap kecelakaan.
Pengemudi truk telah diamankan dan dibawa ke kantor Satlantas Jakarta Utara untuk menjalani pemeriksaan oleh penyidik Unit Laka. Pemeriksaan diperlukan untuk mendapatkan kronologi langsung dari pengemudi sekaligus mencocokkannya dengan hasil olah tempat kejadian perkara. Polisi dapat mendalami kecepatan kendaraan sebelum kecelakaan, kondisi teknis truk, fungsi sistem pengereman, serta kemungkinan adanya faktor kelelahan yang memengaruhi kemampuan pengemudi. Rekaman kamera pengawas di ruas tol juga dapat digunakan apabila tersedia untuk melihat pergerakan kendaraan sebelum dan ketika kecelakaan terjadi. Selain itu, keterangan pekerja yang selamat serta petugas lain di sekitar lokasi menjadi bagian penting dalam menyusun kronologi secara lengkap. Penentuan unsur kelalaian maupun kemungkinan proses hukum terhadap pengemudi akan bergantung pada hasil penyelidikan dan bukti yang dikumpulkan.
Kecelakaan tersebut sekaligus menyoroti besarnya risiko yang dihadapi pekerja pemeliharaan jalan tol ketika bekerja pada malam hari. Pekerjaan pada jam tersebut sering dipilih karena volume lalu lintas relatif lebih rendah sehingga perbaikan dapat dilakukan dengan gangguan minimal terhadap pengguna jalan. Meski demikian, kendaraan tetap melintas dengan kecepatan tinggi sehingga perlindungan terhadap area kerja menjadi sangat penting. Traffic cone, lampu peringatan, kendaraan operasional, rambu sementara, dan jarak pengamanan digunakan untuk memberikan waktu kepada pengemudi agar menyadari adanya aktivitas pekerjaan di depan. Dalam kecelakaan di Tol Wiyoto Wiyono, kerucut lalu lintas yang berada sebelum titik pekerjaan justru menjadi objek pertama yang ditabrak truk sebelum kendaraan melaju menuju area pekerja. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana hilangnya konsentrasi dalam waktu singkat dapat menghilangkan kesempatan pengemudi untuk merespons berbagai tanda peringatan yang telah dipasang.
Aspek keselamatan pengemudi kendaraan berat juga menjadi perhatian karena perjalanan panjang dan pola kerja dapat meningkatkan risiko kelelahan. Pengemudi truk membutuhkan waktu istirahat yang cukup sebelum maupun selama perjalanan agar kemampuan konsentrasi tetap terjaga. Rasa kantuk tidak selalu muncul dalam bentuk seseorang tertidur lama, tetapi dapat diawali dengan respons melambat, sulit mempertahankan lajur, sering menguap, hingga hilangnya kesadaran selama beberapa detik. Apabila gejala tersebut muncul, pengemudi seharusnya menghentikan kendaraan di lokasi yang aman dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Memaksakan perjalanan ketika tubuh membutuhkan tidur dapat menempatkan pengemudi maupun pengguna jalan lain dalam risiko besar. Insiden yang menewaskan tiga pekerja ini menjadi pengingat bahwa kelelahan di balik kemudi dapat menghasilkan konsekuensi fatal dalam waktu sangat singkat.
Polisi kini melanjutkan penyelidikan untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa dan menentukan tanggung jawab hukum dalam kecelakaan tersebut. Pemeriksaan terhadap pengemudi, kendaraan, lokasi kejadian, keterangan saksi, serta bukti pendukung akan menjadi dasar dalam menentukan langkah berikutnya. Tiga korban meninggal telah dievakuasi untuk selanjutnya diserahkan kepada keluarga, sedangkan dua pekerja yang mengalami luka mendapatkan penanganan medis. Pengelola jalan tol bersama kepolisian juga telah mengevakuasi kendaraan dan memulihkan kondisi jalur setelah proses olah tempat kejadian perkara selesai dilakukan. Peristiwa ini menjadi peringatan mengenai pentingnya perlindungan maksimal bagi pekerja yang melakukan pemeliharaan jalan di tengah lalu lintas aktif sekaligus pentingnya memastikan pengemudi kendaraan berat berada dalam kondisi prima. Pencegahan kecelakaan serupa membutuhkan disiplin dari pengemudi, perusahaan angkutan, pengelola jalan, dan pelaksana proyek agar aktivitas pemeliharaan dapat berlangsung tanpa mengorbankan keselamatan pekerja maupun pengguna jalan.







