Jakarta, 12 September 2026 – China mendorong peningkatan kerja sama dengan negara-negara mitra BRICS untuk memperluas kolaborasi ekonomi, perdagangan, investasi, teknologi, dan pembangunan di tengah perubahan kondisi global. Penguatan kemitraan dinilai penting karena negara-negara BRICS mempunyai potensi ekonomi, sumber daya, populasi, dan pasar yang besar. China melihat kerja sama yang semakin erat dapat memberikan lebih banyak ruang bagi negara berkembang untuk memperkuat pertumbuhan sekaligus menghadapi ketidakpastian ekonomi internasional. Kolaborasi tidak hanya diarahkan pada peningkatan perdagangan barang, tetapi juga investasi, pembangunan infrastruktur, ekonomi digital, energi, dan berbagai sektor strategis lainnya. Perluasan keanggotaan dan kemitraan BRICS juga membuat cakupan kepentingan di dalam kelompok menjadi semakin beragam. Kondisi tersebut membuka peluang baru sekaligus membutuhkan koordinasi yang lebih kuat agar kerja sama memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggotanya.
BRICS berkembang menjadi salah satu forum yang semakin diperhatikan dalam tata ekonomi global. Negara-negara yang berada di dalam kelompok tersebut mempunyai karakter perekonomian yang berbeda, mulai dari produsen energi dan komoditas hingga negara dengan sektor manufaktur serta jasa yang besar. Perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan apabila hubungan perdagangan dan investasi mampu dikembangkan secara saling melengkapi. Negara dengan kebutuhan energi dapat bekerja sama dengan produsen, sementara negara yang membutuhkan pembangunan infrastruktur dapat memperoleh kesempatan investasi dan transfer teknologi. Pasar yang besar juga menciptakan ruang bagi perusahaan untuk memperluas kegiatan bisnis lintas negara. Namun, hambatan perdagangan dan perbedaan regulasi masih menjadi tantangan yang harus dikelola. China mendorong agar dialog antaranggota digunakan untuk mencari titik temu terhadap persoalan tersebut.
Perdagangan menjadi salah satu bidang yang mempunyai peluang besar untuk diperluas. Negara-negara BRICS memiliki berbagai komoditas dan produk yang dibutuhkan satu sama lain sehingga peningkatan konektivitas dapat memperbesar arus perdagangan. Penyederhanaan prosedur, peningkatan fasilitas logistik, dan digitalisasi administrasi dapat membantu menekan biaya transaksi. Sistem perdagangan yang semakin efisien juga memberikan kesempatan lebih besar kepada usaha kecil dan menengah untuk masuk ke pasar internasional. Selama ini perdagangan lintas negara sering kali lebih mudah dilakukan perusahaan besar karena mempunyai sumber daya untuk menghadapi berbagai persyaratan administratif. Pemanfaatan teknologi dapat membantu mengurangi sebagian hambatan tersebut. Kerja sama BRICS dapat diarahkan agar manfaat perdagangan tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan berskala besar.
Investasi menjadi bidang lain yang mendapatkan perhatian karena negara anggota membutuhkan modal dalam jumlah besar untuk membangun infrastruktur dan memperkuat sektor produktif. China mempunyai pengalaman melakukan investasi pada proyek transportasi, energi, industri, dan infrastruktur digital di berbagai negara. Kerja sama melalui BRICS dapat memberikan ruang untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan sumber pembiayaan yang tersedia. Namun, setiap proyek perlu mempertimbangkan kelayakan ekonomi, kemampuan pembiayaan, dampak lingkungan, dan manfaat bagi masyarakat setempat. Investasi yang berkualitas juga perlu memberikan kesempatan kepada perusahaan serta tenaga kerja lokal. Transfer pengetahuan menjadi penting agar manfaat kerja sama tetap bertahan setelah pembangunan proyek selesai. Dengan pendekatan tersebut, investasi dapat menjadi instrumen peningkatan kapasitas ekonomi dan bukan sekadar pembangunan aset fisik.
Teknologi diperkirakan menjadi salah satu bidang yang semakin menonjol dalam kerja sama BRICS. Transformasi digital, kecerdasan buatan, pusat data, telekomunikasi, semikonduktor, dan teknologi industri mempunyai peranan semakin besar terhadap daya saing ekonomi. Negara anggota memiliki tingkat perkembangan teknologi yang berbeda sehingga kolaborasi dapat membuka kesempatan pertukaran pengetahuan dan peningkatan kapasitas. Penelitian bersama dapat dikembangkan pada bidang yang mempunyai kepentingan luas seperti pertanian, kesehatan, energi, dan mitigasi perubahan iklim. Namun, kerja sama teknologi juga membutuhkan perhatian terhadap keamanan data dan perlindungan kepentingan nasional. Standar yang berbeda antarnegara dapat menjadi tantangan ketika sistem digital semakin terhubung. Dialog mengenai tata kelola teknologi karena itu akan menjadi semakin penting dalam hubungan antaranggota.
Energi juga mempunyai posisi strategis karena sejumlah negara BRICS merupakan produsen utama minyak, gas, batu bara, maupun energi terbarukan. Negara lainnya mempunyai kebutuhan energi besar untuk mendukung industrialisasi dan pertumbuhan penduduk. Kondisi tersebut menciptakan peluang untuk membangun rantai pasok yang lebih stabil sekaligus memperluas investasi energi. Pada saat yang sama, tekanan untuk menurunkan emisi membuat teknologi energi bersih semakin mendapatkan perhatian. China mempunyai kapasitas besar dalam produksi panel surya, baterai, kendaraan listrik, dan berbagai komponen energi baru. Kolaborasi dapat membantu negara mitra mempercepat pengembangan teknologi tersebut sesuai kebutuhan masing-masing. Transisi energi tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan keterjangkauan dan keamanan pasokan agar tidak mengganggu kegiatan ekonomi.
Sektor pertanian dan ketahanan pangan juga berpotensi menjadi bagian penting dalam peningkatan kerja sama. Negara-negara BRICS memiliki sumber daya pertanian yang besar, tetapi menghadapi tantangan berbeda mulai dari perubahan iklim, produktivitas, distribusi, hingga ketergantungan terhadap sejumlah bahan baku. Pertukaran teknologi dapat membantu meningkatkan hasil produksi dan efisiensi penggunaan air maupun pupuk. Perdagangan pangan antaranggota juga dapat menjadi salah satu cara memperkuat ketahanan pasokan ketika terjadi gangguan pada pasar global. Namun, standar keamanan pangan dan kesehatan hewan harus tetap diperhatikan dalam memperluas perdagangan. Infrastruktur penyimpanan dan transportasi juga diperlukan agar kehilangan hasil dapat ditekan. Kolaborasi yang terencana dapat membantu menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan produsen.
Pembiayaan pembangunan menjadi salah satu aspek yang membedakan BRICS dari sejumlah forum kerja sama lainnya. Keberadaan New Development Bank memberikan alternatif sumber pembiayaan bagi proyek pembangunan dan infrastruktur. Negara anggota dapat memanfaatkan lembaga tersebut untuk mendukung proyek yang mempunyai manfaat ekonomi jangka panjang. Penggunaan mata uang lokal dalam sebagian transaksi juga terus menjadi pembahasan seiring keinginan mengurangi risiko akibat volatilitas nilai tukar internasional. Namun, perluasan penggunaan mata uang lokal membutuhkan sistem pembayaran, likuiditas, dan mekanisme pengelolaan risiko yang memadai. Perubahan tersebut kemungkinan berlangsung secara bertahap karena struktur perdagangan global masih sangat kompleks. Kerja sama finansial akan membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah, bank sentral, lembaga keuangan, dan dunia usaha.
Bagi Indonesia, perkembangan kerja sama BRICS membuka peluang untuk memperluas pasar ekspor, menarik investasi, serta membangun kemitraan teknologi dengan lebih banyak negara berkembang. Indonesia mempunyai kepentingan menjaga hubungan ekonomi yang terbuka sekaligus memperoleh manfaat dari berbagai forum internasional yang diikuti. Potensi kerja sama dapat diarahkan pada hilirisasi, energi, ketahanan pangan, ekonomi digital, infrastruktur, serta peningkatan kapasitas industri nasional. Investasi yang masuk perlu menghasilkan nilai tambah dan memperkuat keterlibatan perusahaan domestik. Indonesia juga dapat membawa kepentingan negara berkembang mengenai pembangunan berkelanjutan dan pemerataan akses teknologi ke dalam pembahasan. Posisi tersebut memungkinkan Indonesia berperan sebagai penghubung dalam berbagai kepentingan ekonomi yang berkembang di dalam BRICS. Manfaat keanggotaan pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan menerjemahkan kerja sama politik menjadi proyek ekonomi konkret.
Dorongan China untuk memperbesar kerja sama dengan mitra BRICS pada akhirnya menunjukkan semakin pentingnya forum tersebut dalam dinamika ekonomi internasional. Perdagangan, investasi, teknologi, energi, pangan, dan pembiayaan pembangunan menjadi sejumlah bidang yang mempunyai ruang besar untuk dikembangkan. Keberagaman anggota dapat menghasilkan jaringan ekonomi yang luas apabila perbedaan kepentingan dapat dikelola melalui dialog. Tantangan utama adalah memastikan kerja sama memberikan keuntungan yang seimbang dan tidak hanya memperbesar ketergantungan pada negara tertentu. Transparansi proyek, keberlanjutan pembiayaan, transfer teknologi, dan keterlibatan industri lokal akan menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas kolaborasi. Dengan koordinasi yang konsisten, BRICS berpotensi menjadi salah satu platform utama bagi negara berkembang untuk memperluas kerja sama sekaligus meningkatkan perannya dalam perekonomian global.





