Pandeglang, 11 September 2026 – Tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di kawasan Selat Sunda setelah melakukan perjalanan menuju sekitar Gunung Anak Krakatau. Pencarian kini turut difokuskan ke Pulau Sertung menyusul informasi dari keluarga yang menduga rombongan kemungkinan sempat berada di pulau tersebut sebelum komunikasi terputus. Dugaan itu muncul berdasarkan dokumentasi terakhir yang diterima keluarga dari salah seorang anggota rombongan. Basarnas kemudian memasukkan informasi tersebut sebagai salah satu petunjuk yang perlu diperiksa secara langsung di lapangan. Personel dikerahkan untuk melakukan penyisiran di sejumlah bagian Pulau Sertung yang dinilai memungkinkan untuk didatangi rombongan. Namun hingga pemeriksaan dilakukan, belum ditemukan tanda yang dapat memastikan keberadaan para jurnalis maupun awak kapal yang dicari.
Pencarian di Pulau Sertung menjadi bagian dari pengembangan operasi setelah penyisiran laut selama beberapa hari belum membuahkan hasil. Tim sebelumnya telah bergerak di berbagai sektor perairan dengan mempertimbangkan titik terakhir komunikasi, arah arus, gelombang, dan pergerakan angin. Luasnya wilayah Selat Sunda membuat pencarian membutuhkan pembagian sektor agar setiap unsur dapat bergerak secara sistematis. Kapal-kapal yang terlibat menyisir wilayah berbeda sambil mengamati kemungkinan keberadaan speedboat maupun benda yang berkaitan dengan rombongan. Ketika muncul informasi mengenai kemungkinan para jurnalis sempat turun di Pulau Sertung, tim kemudian melakukan pemeriksaan darat untuk memastikan dugaan tersebut. Langkah itu dilakukan agar seluruh informasi yang mempunyai kemungkinan relevan dengan keberadaan korban tidak terlewatkan.
Pulau Sertung mendapat perhatian setelah keluarga jurnalis ANTARA Bagus Khoirunnas meminta tim SAR memeriksa kawasan tersebut. Permintaan itu berkaitan dengan foto terakhir yang disebut dikirim Bagus sebelum rombongan kehilangan kontak pada Senin, 7 September 2026. Dokumentasi tersebut memunculkan dugaan bahwa rombongan mungkin sempat berada atau mendekati kawasan Pulau Sertung di sekitar Gunung Anak Krakatau. Informasi dari keluarga kemudian diteruskan kepada tim pencarian sebagai bahan untuk menentukan langkah operasi berikutnya. Basarnas tidak langsung menyimpulkan rombongan berada di pulau tersebut, tetapi tetap melakukan pemeriksaan karena setiap petunjuk perlu diverifikasi. Penelusuran dilakukan dengan memperhatikan kondisi geografis serta aspek keselamatan personel yang diterjunkan.
Pemeriksaan Pulau Sertung menghadapi tantangan tersendiri karena wilayahnya tidak sama dengan kawasan permukiman yang memiliki akses jalan dan fasilitas pendukung. Vegetasi dan kondisi medan membuat penyisiran membutuhkan waktu serta ketelitian agar tidak ada bagian penting yang terlewatkan. Personel harus bergerak dari titik pendaratan menuju sejumlah area yang dianggap memungkinkan menjadi tempat berlindung apabila rombongan memang sempat mencapai daratan. Pada saat bersamaan, tim tetap melakukan pengamatan terhadap garis pantai untuk mencari kemungkinan jejak kapal atau barang bawaan. Hingga tahapan pencarian tersebut dilakukan, belum terdapat temuan yang dapat dikaitkan secara pasti dengan rombongan yang hilang. Kondisi itu membuat operasi tidak hanya bertumpu pada Pulau Sertung, tetapi tetap dilanjutkan di sektor laut lainnya.
Rombongan yang dicari sebelumnya melakukan perjalanan menggunakan speedboat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk kegiatan peliputan. Basarnas mendata terdapat lima jurnalis bersama tiga orang lainnya dalam perjalanan tersebut, sehingga total delapan orang masih menjadi sasaran operasi pencarian. Komunikasi dengan rombongan kemudian terputus dan keberadaan kapal tidak dapat dipastikan. Setelah menerima laporan, unsur SAR dari Banten dan Lampung bergerak melakukan pencarian di sekitar kawasan yang diperkirakan menjadi rute perjalanan mereka. Pencarian kemudian diperluas karena tidak ditemukan kapal pada titik awal yang disisir. Setiap perkembangan mengenai komunikasi terakhir, dokumentasi perjalanan, maupun kemungkinan perubahan rute terus dikumpulkan untuk mempersempit area pencarian.
Selain pencarian darat di Pulau Sertung, operasi di perairan tetap menjadi bagian utama karena speedboat yang digunakan rombongan juga belum ditemukan. Pergerakan arus Selat Sunda memungkinkan sebuah kapal mengalami pergeseran cukup jauh apabila kehilangan kemampuan navigasi atau mesin mengalami gangguan. Karena itu, posisi kapal saat terakhir diketahui tidak dapat menjadi satu-satunya patokan setelah beberapa hari berlalu. Tim SAR menggunakan perhitungan pergerakan arus dan angin untuk memperkirakan sektor yang mempunyai kemungkinan dilalui objek di permukaan laut. Perluasan area dilakukan secara bertahap berdasarkan evaluasi pencarian sebelumnya. Belum ditemukannya tanda keberadaan kapal membuat seluruh kemungkinan masih diperhitungkan dalam operasi.
Kondisi Gunung Anak Krakatau juga menjadi faktor yang harus diperhatikan selama pencarian berlangsung. Aktivitas vulkanik membuat personel tidak dapat bergerak tanpa mempertimbangkan rekomendasi keselamatan di sekitar gunung. Koordinasi dengan instansi pemantauan gunung api diperlukan ketika operasi mendekati kawasan yang mempunyai tingkat risiko lebih tinggi. Personel SAR harus memastikan proses pencarian korban tidak menimbulkan bahaya baru bagi tim yang berada di lapangan. Kondisi laut dan cuaca juga terus dipantau karena angin serta gelombang dapat berubah dalam waktu relatif cepat di kawasan Selat Sunda. Pertimbangan tersebut menentukan kapan kapal kecil dapat melakukan penyisiran dan kapan operasi perlu menggunakan sarana dengan kemampuan lebih besar.
Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur yang bekerja di laut maupun melakukan pengamatan dari udara. Penggunaan kapal dengan ukuran berbeda memungkinkan tim menjangkau perairan terbuka sekaligus mendekati kawasan pulau yang memiliki kedalaman lebih terbatas. Drone juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengamatan visual terhadap garis pantai dan wilayah yang sulit dijangkau personel secara langsung. Namun, penggunaan perangkat udara tetap sangat bergantung pada kecepatan angin dan kondisi cuaca. Informasi dari masyarakat, nelayan, maupun keluarga korban juga terus dibutuhkan untuk melengkapi data yang dimiliki petugas. Setiap laporan yang masuk perlu diverifikasi terlebih dahulu sebelum dijadikan dasar pengerahan unsur pencarian ke suatu titik.
Belum ditemukannya tanda di Pulau Sertung tidak membuat pencarian langsung dihentikan karena kawasan tersebut hanya menjadi salah satu bagian dari wilayah operasi yang lebih luas. Tim masih harus mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk kapal terbawa arus atau rombongan berada di lokasi lain di sekitar gugusan Krakatau. Penelusuran juga dapat diarahkan kembali berdasarkan hasil evaluasi harian dan informasi baru yang diterima. Semakin lama waktu berlalu, perhitungan mengenai kemungkinan pergerakan kapal perlu terus diperbarui sehingga sektor pencarian dapat berubah. Koordinasi antartim menjadi penting agar area yang telah diperiksa dapat tercatat dengan baik dan tidak terjadi pengulangan yang tidak diperlukan. Seluruh sumber daya diarahkan untuk memperbesar peluang menemukan rombongan secepat mungkin.
Basarnas memastikan operasi pencarian terhadap para jurnalis dan awak kapal tetap dilanjutkan dengan mengoptimalkan unsur yang tersedia. Pemeriksaan Pulau Sertung menjadi salah satu upaya untuk menindaklanjuti petunjuk dari keluarga, meskipun sejauh ini belum menghasilkan tanda keberadaan rombongan. Tim gabungan tetap melakukan penyisiran laut sembari mengevaluasi sektor yang perlu diperluas berdasarkan arus, cuaca, dan informasi terbaru. Keluarga para korban terus menunggu perkembangan operasi dan berharap setiap kemungkinan lokasi dapat diperiksa secara menyeluruh. Petugas juga mengingatkan bahwa informasi mengenai temuan harus dipastikan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di tengah proses pencarian. Operasi akan terus diarahkan pada upaya menemukan delapan orang tersebut sekaligus memastikan kondisi mereka setelah kehilangan kontak di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau.





