Makassar, 9 September 2026 – General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) Edyansyah turun langsung meninjau kondisi unit pembangkit sebagai bagian dari upaya mempercepat pemulihan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Peninjauan dilakukan untuk memastikan optimalisasi daya mampu pasok berjalan sesuai target sekaligus melihat secara langsung kondisi mesin pembangkit dan instalasi pendukungnya. PLN saat ini terus mengoptimalkan seluruh sumber pasokan yang tersedia karena sejumlah pembangkit masih berada dalam proses pemulihan menuju operasi optimal. Pada saat bersamaan, kondisi sistem kelistrikan dipantau secara berkelanjutan selama 24 jam untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pelanggan. Langkah tersebut dilakukan setelah sejumlah wilayah Sulbagsel mengalami pengaturan beban dan pemadaman bergilir akibat keterbatasan daya mampu pembangkit.
Pemantauan tidak hanya dilakukan melalui kunjungan langsung ke fasilitas pembangkit, tetapi juga melalui Unit Pelaksana Pengendalian Distribusi (UP2D) Sulselrabar. Dari fasilitas tersebut, kondisi sistem dapat dipantau secara waktu nyata sehingga perubahan pasokan maupun kebutuhan listrik dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan pengaturan sistem, terutama ketika terdapat pembangkit yang belum dapat memasok daya secara maksimal. PLN menilai pemantauan yang ketat diperlukan untuk mencegah gangguan berkembang menjadi lebih luas sekaligus menjaga kestabilan jaringan selama proses pemulihan. Koordinasi antara pengendalian distribusi dan tim teknis di pembangkit juga terus diperkuat agar setiap tambahan daya yang tersedia dapat segera masuk ke sistem.
Pemulihan pasokan Sulbagsel sebelumnya menunjukkan perkembangan setelah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeneponto berkapasitas 125 megawatt kembali beroperasi dan menyuplai listrik ke jaringan. Masuknya kembali pembangkit tersebut membantu mengurangi besarnya kekurangan daya yang sebelumnya harus dikelola melalui pengaturan beban. Meski demikian, sejumlah unit pembangkit lainnya masih belum mencapai daya mampu optimal sehingga proses pemulihan belum sepenuhnya selesai. PLN karena itu tetap harus mengelola pasokan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kemampuan pembangkit dan kebutuhan listrik pada setiap periode. Optimalisasi dilakukan secara bertahap untuk memastikan pembangkit yang kembali beroperasi dapat memasok daya secara stabil tanpa menimbulkan gangguan tambahan terhadap sistem.
Edyansyah sebelumnya menjelaskan bahwa gangguan pasokan yang dirasakan masyarakat berkaitan dengan kondisi infrastruktur ketenagalistrikan dan proses pemeliharaan yang sedang berlangsung. Salah satu faktor yang sempat memengaruhi pasokan adalah pemeliharaan PLTU Jeneponto berkapasitas 125 MW, sementara kondisi cuaca kering berkepanjangan juga memberikan tantangan tersendiri terhadap sistem kelistrikan regional. Dalam kondisi daya mampu yang terbatas, PLN harus melakukan pengaturan beban untuk mempertahankan kestabilan jaringan secara keseluruhan. Kebijakan tersebut berdampak pada terjadinya pemadaman bergilir di sejumlah daerah, termasuk Makassar dan wilayah lain yang terhubung dengan sistem Sulbagsel. PLN menyatakan langkah itu dilakukan sebagai pilihan teknis sementara sampai daya pembangkit dapat kembali tersedia secara lebih optimal.
Pemadaman bergilir yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir juga mendapat perhatian karena listrik menjadi kebutuhan penting bagi aktivitas masyarakat, pelayanan publik, hingga kegiatan ekonomi. PLN berupaya menekan durasi dan cakupan pengaturan beban seiring bertambahnya pembangkit yang dapat kembali masuk ke jaringan. Setiap peningkatan daya mampu pasok akan digunakan untuk memperkecil defisit sehingga jumlah pelanggan yang terdampak dapat terus dikurangi. Namun, perusahaan tetap harus memperhitungkan kondisi aktual sistem karena memaksakan penyaluran ketika keseimbangan pasokan dan beban belum tercapai dapat meningkatkan risiko gangguan yang lebih besar. Karena itu, normalisasi dilakukan secara terukur sambil memastikan kondisi teknis setiap unit pembangkit benar-benar siap menopang kebutuhan sistem.
Selain pemulihan pembangkit, aspek komunikasi kepada masyarakat turut menjadi perhatian selama berlangsungnya pengaturan pasokan. Ombudsman Perwakilan Sulawesi Selatan sebelumnya menekankan pentingnya informasi yang jelas dan mudah diakses ketika terjadi gangguan pelayanan maupun pemadaman bergilir. Masyarakat membutuhkan kepastian mengenai kondisi kelistrikan dan langkah penanganan agar dapat menyesuaikan berbagai aktivitas yang bergantung pada pasokan listrik. PLN menyatakan informasi mengenai kondisi sistem telah disampaikan melalui kanal komunikasi resminya sembari petugas terus melakukan pekerjaan teknis di lapangan. Transparansi informasi menjadi semakin penting ketika proses pemulihan membutuhkan waktu dan jadwal pengaturan beban dapat berubah mengikuti perkembangan daya mampu pembangkit.
Kondisi kelistrikan Sulbagsel mempunyai karakter yang membutuhkan pengelolaan terintegrasi karena jaringan melayani kebutuhan di berbagai wilayah dengan tingkat konsumsi yang berbeda. Gangguan atau berkurangnya kemampuan salah satu pembangkit dapat memengaruhi keseimbangan sistem, terutama apabila terjadi bersamaan dengan peningkatan kebutuhan pada periode beban puncak. Oleh sebab itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan mengoperasikan kembali satu pembangkit, tetapi harus diikuti optimalisasi seluruh sumber daya yang tersedia. PLN juga harus memastikan jaringan transmisi dan distribusi mampu menerima tambahan daya secara aman ketika pembangkit kembali beroperasi. Pendekatan tersebut membuat pemantauan 24 jam menjadi bagian penting dalam menentukan langkah teknis selama proses normalisasi berlangsung.
PLN sebelumnya menargetkan kondisi sistem kelistrikan Sulselrabar dapat membaik setelah pemeliharaan dan optimalisasi pembangkit diselesaikan. Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan sejumlah fasilitas masih memerlukan optimalisasi lanjutan sehingga perusahaan tetap melakukan berbagai langkah pemulihan. Kembalinya PLTU Jeneponto 125 MW menjadi salah satu perkembangan penting, tetapi perusahaan belum mengendurkan kesiagaan karena kemampuan pembangkit lainnya tetap menentukan kestabilan sistem secara keseluruhan. Jajaran manajemen dan tim teknis terus melakukan evaluasi terhadap daya mampu aktual agar keputusan pengoperasian jaringan dapat disesuaikan dengan kondisi terbaru. Fokus utama PLN adalah memperbesar pasokan yang tersedia sekaligus mengurangi dampak gangguan terhadap pelanggan secara bertahap.
Peninjauan langsung yang dilakukan GM PLN UID Sulselrabar menjadi bagian dari upaya memastikan proses optimalisasi tidak hanya dipantau melalui pusat pengendalian, tetapi juga diverifikasi langsung pada fasilitas pembangkit. Kondisi mesin, instalasi pendukung, kesiapan personel dan perkembangan pekerjaan menjadi faktor yang diperhatikan untuk mempercepat masuknya kembali daya ke jaringan. PLN memastikan seluruh sumber daya yang tersedia terus dikerahkan sampai kondisi kelistrikan Sulbagsel dapat kembali stabil dan pelayanan kepada pelanggan berlangsung normal. Selama proses tersebut, pemantauan sistem selama 24 jam akan tetap dilakukan agar setiap perubahan kondisi dapat segera direspons. Dengan pembangkit yang secara bertahap kembali optimal, PLN berharap kapasitas pasokan terus meningkat sehingga kebutuhan listrik masyarakat dan kegiatan ekonomi di Sulawesi Bagian Selatan dapat dipenuhi secara lebih andal.






