Jakarta, 18 September 2026 – Kepolisian Brasil menangkap Jorlan Lopes da Silva, pria berusia 33 tahun yang diduga terlibat dalam serangkaian pembunuhan di negara bagian Paraíba, wilayah timur laut Brasil. Penangkapan dilakukan setelah operasi pencarian panjang di sekitar wilayah Mulungu. Jorlan menjadi perhatian setelah mengatakan kepada penyidik bahwa dirinya telah membunuh sekitar 80 orang sepanjang hidupnya. Namun, polisi menegaskan angka tersebut belum dapat dianggap sebagai fakta karena masih harus diverifikasi melalui penyelidikan. Sejauh ini, penyidik mengaitkannya dengan sedikitnya 16 kasus pembunuhan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, Jorlan dilaporkan telah mengakui keterlibatannya dalam 11 kasus.

Penangkapan Jorlan berlangsung tidak biasa karena ia diduga berusaha menghindari petugas dengan menyamar menggunakan pakaian perempuan. Polisi menemukannya mengenakan gaun dan rambut palsu ketika keluar dari kawasan berhutan. Saat ditangkap, ia juga membawa seorang anak kecil yang menurut kepolisian tidak memiliki hubungan keluarga dengannya. Penyamaran tersebut diduga dilakukan agar keberadaannya tidak dikenali petugas yang sedang melakukan pencarian. Jorlan sebelumnya sempat menghindari upaya penangkapan sehingga aparat memperluas operasi di kawasan tersebut. Setelah berhasil diamankan, ia langsung menjalani pemeriksaan untuk mendalami berbagai kasus yang diduga melibatkannya.

Dalam pemeriksaan, Jorlan mengklaim telah melakukan pembunuhan sejak berusia 13 tahun. Pernyataan mengenai sekitar 80 korban kemudian membuat penyidik mulai menelusuri kembali sejumlah kasus pembunuhan yang sebelumnya belum terungkap. Polisi tidak langsung menerima pengakuan tersebut karena setiap kasus membutuhkan bukti yang dapat menghubungkan tersangka dengan korban. Catatan kriminal, lokasi kejadian, keterangan saksi, serta bukti forensik akan dibandingkan dengan informasi yang diberikan Jorlan. Kepolisian Paraíba juga membuka kemungkinan pemeriksaan terhadap kasus lama yang memiliki pola atau keterkaitan tertentu. Jumlah korban yang dapat dibuktikan secara hukum karena itu masih dapat berbeda jauh dari pengakuannya.

Penyidik saat ini memusatkan perhatian pada sedikitnya 16 kasus pembunuhan di wilayah Vale do Mamanguape yang diduga berkaitan dengan Jorlan. Sebagian besar kasus tersebut terjadi sejak Mei 2026 setelah tersangka kembali berada di luar penjara. Salah satu perkara yang diperiksa merupakan pembunuhan ganda yang terjadi di sebuah tempat umum pada awal Agustus. Polisi juga menyelidiki dugaan hubungan tersangka dengan kelompok kriminal yang beroperasi di wilayah Paraíba. Jorlan sendiri membantah menjadi anggota organisasi kriminal dan mengklaim bertindak sendiri. Keterangan tersebut masih diperiksa karena penyidik menemukan sejumlah indikasi yang membutuhkan pendalaman lebih lanjut.

Dalam upaya penangkapan sebelumnya, aparat menemukan sejumlah perlengkapan yang diduga berkaitan dengan aktivitas tersangka, termasuk rompi antipeluru, bagian senjata dan lebih dari 100 butir amunisi. Temuan tersebut menjadi bagian dari barang bukti yang diperiksa untuk mengetahui aktivitas serta jaringan yang mungkin berhubungan dengannya. Dua orang lain juga diamankan dalam rangkaian operasi dan diperiksa mengenai kemungkinan keterlibatan mereka. Polisi berusaha mengetahui apakah berbagai pembunuhan dilakukan secara individual atau berkaitan dengan konflik kelompok kriminal. Pemeriksaan terhadap komunikasi, hubungan antarpelaku dan kasus-kasus lama juga terus dikembangkan.

Setelah penangkapan, Jorlan ditempatkan dalam tahanan untuk menjalani proses hukum dan penyidikan lebih lanjut. Klaim mengenai 80 korban menjadi salah satu bagian utama yang kini harus diverifikasi satu per satu oleh kepolisian Brasil. Penyidik menegaskan pengakuan tersangka tidak cukup untuk menetapkan jumlah korban tanpa dukungan bukti dalam setiap perkara. Sejumlah kasus pembunuhan yang belum terpecahkan berpotensi dibuka kembali apabila ditemukan keterkaitan dengan informasi yang disampaikan Jorlan. Penyelidikan juga akan menentukan sejauh mana dugaan keterlibatannya dengan jaringan kriminal di wilayah tersebut. Kasus ini menjadi perhatian luas karena besarnya jumlah korban yang diklaim tersangka, meskipun angka sebenarnya masih menunggu pembuktian aparat.