Jakarta, 27 Agustus 2026 – Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, sepakat membayar hingga sekitar US$16,7 miliar atau setara Rp278 triliun untuk mengakhiri gugatan besar yang menuduh perusahaan tersebut merancang platform media sosialnya agar membuat anak-anak dan remaja terus menggunakannya. Kesepakatan itu diajukan setelah persidangan federal di Oakland, California, baru berjalan sekitar sepekan dan melibatkan gugatan dari puluhan negara bagian Amerika Serikat. Nilai pembayaran tersebut menjadikan perkara ini sebagai salah satu penyelesaian hukum terbesar yang pernah dihadapi perusahaan teknologi terkait keselamatan anak di media sosial.
Gugatan tersebut berawal dari tuduhan bahwa Meta secara sengaja mengembangkan sejumlah fitur Facebook dan Instagram yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna muda selama mungkin. Para penggugat menilai perusahaan mengetahui adanya risiko terhadap kesehatan mental anak dan remaja, tetapi tetap mempertahankan mekanisme yang mendorong penggunaan berlebihan. Dalam perkara tersebut, Meta juga dituduh menyesatkan publik mengenai tingkat keamanan produknya serta mengumpulkan data pribadi anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan lebih ketat. Meta membantah telah melakukan pelanggaran, sehingga kesepakatan ini bukan merupakan pengakuan bahwa perusahaan bersalah.
Perkara yang diselesaikan melalui kesepakatan tersebut melibatkan 47 negara bagian, Distrik Columbia, serta sejumlah wilayah Amerika Serikat. Sebelumnya, 29 negara bagian menjadi bagian utama gugatan yang menuduh Meta melanggar aturan perlindungan konsumen dan undang-undang federal mengenai privasi anak. Gugatan itu diajukan pada 2023 dan kemudian berkembang menjadi salah satu pertarungan hukum paling penting mengenai tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap dampak penggunaan media sosial pada anak-anak. Persidangan yang berlangsung di California bahkan diperkirakan akan menghadirkan sejumlah eksekutif penting Meta, termasuk CEO Mark Zuckerberg, sebelum akhirnya dihentikan setelah tercapainya kesepakatan.
Dalam kesepakatan tersebut, Meta tidak hanya berkewajiban membayar uang dalam jumlah sangat besar, tetapi juga harus melakukan perubahan terhadap cara Facebook dan Instagram digunakan oleh remaja. Salah satu ketentuan utama adalah pembatasan waktu penggunaan harian bagi pengguna di bawah usia 18 tahun. Pengguna remaja akan dibatasi hingga sekitar dua jam penggunaan per hari secara default, sementara orang tua memiliki kewenangan untuk mengubah atau mencabut pembatasan tersebut. Apabila sistem menemukan seorang remaja memiliki beberapa akun, pembatasan penggunaan juga dapat diterapkan pada akun-akun lainnya agar pengguna tidak dapat dengan mudah menghindari aturan melalui profil berbeda.
Selain pembatasan waktu, Meta juga akan memperkuat pengaturan penggunaan pada malam hari. Akses remaja terhadap platform akan dibatasi pada jam tertentu agar mereka tidak terus menggunakan media sosial ketika seharusnya beristirahat. Notifikasi juga akan dihentikan pada jam sekolah sehingga aktivitas platform tidak terus-menerus mengganggu kegiatan belajar. Langkah tersebut menunjukkan perubahan pendekatan yang cukup besar karena selama ini keberhasilan platform media sosial sangat bergantung pada kemampuan mempertahankan perhatian pengguna dan meningkatkan durasi interaksi mereka.
Aturan baru itu juga mencakup penguatan perlindungan terhadap konten yang tidak sesuai usia. Meta diwajibkan meningkatkan mekanisme untuk mencegah anak mengakses materi yang seharusnya diperuntukkan bagi pengguna dewasa. Sistem verifikasi usia dan kontrol orang tua juga akan diperkuat. Perubahan tersebut diharapkan dapat mengurangi kemungkinan anak-anak menemukan konten berbahaya atau melakukan interaksi dengan pengguna lain yang dapat menimbulkan risiko keselamatan.
Kesepakatan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap perusahaan media sosial mengenai dampaknya terhadap kesehatan mental generasi muda. Selama beberapa tahun terakhir, Meta, TikTok, YouTube, dan Snapchat menghadapi berbagai gugatan yang menuduh platform mereka berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental anak dan remaja. Para penggugat menyoroti fitur seperti rekomendasi konten, notifikasi, video yang diputar secara otomatis, sistem penghargaan digital, serta desain aplikasi yang mendorong pengguna terus menggulir layar. Mereka berpendapat fitur-fitur tersebut bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Dalam persidangan yang dihentikan melalui kesepakatan ini, para jaksa agung negara bagian berusaha membuktikan bahwa Meta mengetahui risiko dari desain produknya. Kesaksian mantan karyawan dan dokumen internal perusahaan menjadi bagian penting dari proses hukum tersebut. Salah satu mantan pejabat teknik Meta sebelumnya menyatakan perusahaan terlalu menitikberatkan pada seberapa sering dan berapa lama pengguna berinteraksi dengan produk. Kesaksian semacam itu menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai pertimbangan internal perusahaan ketika mengembangkan fitur untuk pengguna muda.
Para penggugat juga menyoroti persoalan yang lebih luas mengenai bagaimana Meta menangani anak-anak di bawah usia 13 tahun. Gugatan tersebut menuduh perusahaan mengumpulkan data dari anak-anak yang seharusnya memperoleh perlindungan berdasarkan aturan privasi anak di Amerika Serikat. Data pengguna kemudian disebut dapat digunakan dalam berbagai keperluan teknologi perusahaan, termasuk pengembangan sistem pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan. Persoalan tersebut membuat kasus Meta tidak hanya berkaitan dengan kecanduan media sosial, tetapi juga menyentuh isu privasi serta pengelolaan data anak.
Besarnya nilai penyelesaian membuat angka Rp278 triliun menjadi sorotan. Namun, jumlah tersebut bukan berarti Meta langsung menyerahkan seluruh uang dalam satu kali pembayaran. Pembayaran akan dilakukan secara bertahap selama beberapa tahun dan nilai akhirnya dapat berubah berdasarkan ketentuan dalam kesepakatan. Meta menyebut total kewajiban yang berpotensi dikeluarkan dalam periode sekitar satu dekade dapat mencapai angka yang lebih besar, bergantung pada pelaksanaan berbagai ketentuan dan kondisi yang disepakati.
Nilai tersebut tetap sangat besar jika dibandingkan dengan penyelesaian perkara teknologi pada umumnya. Sebelum kesepakatan dicapai, Meta bahkan menghadapi potensi hukuman yang jauh lebih tinggi jika gugatan dilanjutkan sampai menghasilkan putusan. Perusahaan sebelumnya memperkirakan tuntutan berdasarkan berbagai pelanggaran yang dituduhkan dapat mencapai sekitar US$1,4 triliun. Angka tersebut membuat risiko finansial dari persidangan menjadi salah satu ancaman hukum terbesar bagi Meta, meskipun para penggugat sendiri tidak secara resmi menetapkan angka sebesar itu sebagai pembayaran yang pasti.
Bagi para jaksa agung negara bagian yang menggugat, kesepakatan tersebut bukan semata-mata persoalan uang. Mereka menilai perubahan desain dan kebijakan Facebook serta Instagram merupakan bagian yang lebih penting karena dampaknya dapat dirasakan oleh pengguna muda secara langsung. Jaksa Agung California Rob Bonta menyebut kesepakatan itu sebagai langkah besar untuk meningkatkan perlindungan anak di dunia digital. Pemerintah negara bagian menilai perusahaan teknologi harus bertanggung jawab terhadap konsekuensi produk yang mereka tawarkan kepada anak-anak.
Virginia juga termasuk negara bagian yang mendapatkan manfaat dari penyelesaian tersebut. Jaksa Agung Virginia Jay Jones menyatakan bahwa Meta selama bertahun-tahun dituduh menipu publik mengenai fitur yang dianggap memiliki sifat adiktif dan berbahaya bagi anak muda. Menurut pandangan pihak penggugat, penyelesaian tersebut dapat menghentikan sejumlah praktik yang dianggap merugikan dan memaksa perusahaan menerapkan perlindungan yang lebih konkret. Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tekanan hukum terhadap perusahaan teknologi tidak lagi hanya berfokus pada denda, tetapi juga perubahan terhadap produk.
Meta sendiri mengambil posisi berbeda. Perusahaan tetap tidak mengakui telah melakukan kesalahan atau melanggar hukum dalam perkara tersebut. Meta menyatakan bahwa mereka telah melakukan berbagai perubahan untuk meningkatkan keamanan remaja di platformnya, termasuk menyediakan akun khusus remaja dengan pengaturan privasi dan perlindungan yang lebih ketat. Perusahaan juga berpendapat bahwa persoalan penggunaan media sosial oleh remaja tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu perusahaan karena anak-anak berpindah dari satu platform ke platform lainnya.
Karena alasan tersebut, Meta mendorong perusahaan teknologi lain untuk menerapkan standar yang serupa. Perusahaan secara khusus menyerukan agar TikTok dan YouTube ikut menerapkan pembatasan waktu serta langkah perlindungan anak yang sejalan. Menurut Meta, aturan yang hanya diterapkan pada Facebook dan Instagram tidak akan sepenuhnya efektif jika remaja dapat berpindah ke platform lain dan melanjutkan kebiasaan penggunaan berlebihan. Dorongan tersebut memperlihatkan bahwa penyelesaian kasus ini berpotensi memberikan tekanan baru kepada seluruh industri media sosial.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak dan remaja. Platform digunakan untuk berkomunikasi dengan teman, memperoleh informasi, mencari hiburan, mengikuti tren, hingga membangun identitas sosial. Namun, penggunaan dalam waktu lama juga dapat mengganggu tidur, kegiatan belajar, interaksi langsung, dan kondisi psikologis sebagian pengguna. Para peneliti dan kelompok advokasi anak selama bertahun-tahun memperdebatkan seberapa besar tanggung jawab perusahaan dalam mengantisipasi risiko tersebut.
Kasus Meta juga tidak berdiri sendiri. Perusahaan tersebut sebelumnya telah menghadapi sejumlah perkara lain yang berkaitan dengan keselamatan anak. Pada tahun ini, Meta juga kalah dalam perkara terpisah di New Mexico yang berujung pada kewajiban pembayaran ratusan juta dolar dan penerapan langkah keselamatan tambahan. Selain itu, gugatan individu serta gugatan dari sekolah dan keluarga di berbagai wilayah Amerika Serikat masih terus berjalan. Artinya, penyelesaian senilai ratusan triliun rupiah ini belum otomatis mengakhiri seluruh persoalan hukum yang dihadapi perusahaan.
Sejumlah sekolah di Amerika Serikat juga menggugat perusahaan media sosial karena menganggap penggunaan platform berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental siswa dan meningkatkan beban yang harus ditanggung sekolah. Mereka menilai sekolah harus menghadapi konsekuensi dari persoalan yang sebagian muncul di luar lingkungan pendidikan. Gugatan tersebut menjadi bagian dari gelombang tuntutan hukum yang lebih luas terhadap perusahaan teknologi, meskipun hasil akhirnya masih berbeda-beda di setiap perkara.
Bagi Meta, kesepakatan tersebut sekaligus menghindarkan perusahaan dari risiko persidangan yang dapat berlangsung lebih lama dan membuka berbagai dokumen internal kepada publik. Persidangan yang berlanjut juga berpotensi membuat eksekutif perusahaan memberikan kesaksian di bawah sumpah mengenai keputusan desain produk dan kebijakan keselamatan anak. Dengan mencapai kesepakatan, Meta dapat mengurangi ketidakpastian hukum tersebut, meskipun harus menanggung pembayaran sangat besar serta perubahan terhadap produk yang digunakan oleh ratusan juta orang.
Pasar keuangan justru merespons kesepakatan tersebut dengan relatif positif. Saham Meta sempat mengalami kenaikan setelah pengumuman penyelesaian perkara. Investor tampaknya melihat pembayaran tersebut sebagai biaya yang dapat dihitung dibandingkan risiko ketidakpastian akibat persidangan panjang dan potensi hukuman yang jauh lebih besar. Perubahan tersebut juga dinilai masih dapat dikelola oleh perusahaan mengingat skala bisnis Meta yang sangat besar.
Meski demikian, dampak terbesar dari kesepakatan ini kemungkinan tidak hanya terlihat pada laporan keuangan perusahaan. Perubahan batas waktu penggunaan, penghentian notifikasi pada jam tertentu, pembatasan penggunaan malam hari, penguatan kontrol orang tua, serta peningkatan pemeriksaan usia dapat mengubah pengalaman jutaan pengguna muda. Jika diterapkan secara konsisten, langkah tersebut dapat menjadi contoh baru mengenai bagaimana perusahaan teknologi harus merancang produk ketika penggunanya termasuk kelompok anak dan remaja.
Kesepakatan ini juga dapat menjadi preseden bagi pemerintah negara bagian lain dalam menghadapi perusahaan teknologi. Sebelumnya, perusahaan media sosial sering menghadapi kritik mengenai dampak produknya, tetapi proses hukum untuk memaksa perubahan desain berlangsung panjang dan rumit. Dengan tercapainya penyelesaian bernilai hingga puluhan miliar dolar sekaligus kewajiban perubahan produk, pemerintah memiliki contoh baru mengenai pendekatan yang dapat digunakan untuk menekan perusahaan teknologi agar memperkuat perlindungan pengguna muda.
Pada akhirnya, perkara Meta memperlihatkan perubahan besar dalam perdebatan mengenai tanggung jawab perusahaan media sosial. Persoalannya tidak lagi hanya berkaitan dengan apakah pengguna menyukai atau tidak menyukai sebuah aplikasi, melainkan bagaimana desain teknologi dapat memengaruhi perilaku kelompok yang masih berada dalam tahap perkembangan. Dengan pembayaran hingga sekitar Rp278 triliun dan kewajiban menerapkan berbagai pembatasan baru, Meta kini menghadapi konsekuensi nyata dari pertarungan hukum mengenai keselamatan anak. Namun, karena perusahaan tidak mengakui kesalahan dan masih menghadapi perkara lain, perdebatan mengenai hubungan media sosial, kecanduan, privasi, dan kesehatan mental remaja dipastikan belum berakhir.





