Jakarta, 10 Mei 2026 – Uni Emirat Arab menuding Iran berada di balik serangan drone yang memicu kebakaran di kawasan industri minyak Fujairah. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan tiga orang mengalami luka-luka dan meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk.
Otoritas Fujairah menyebut serangan terjadi di area Fujairah Oil Industry Zone yang merupakan salah satu pusat penyimpanan dan distribusi minyak terbesar di kawasan. Tim pertahanan sipil langsung dikerahkan untuk memadamkan api dan mengendalikan situasi di lokasi kejadian.
Kementerian Pertahanan UEA mengatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang disebut diluncurkan dari Iran. Meski sebagian besar ancaman berhasil dihentikan, sebuah drone dilaporkan tetap menghantam area industri minyak dan memicu kebakaran besar.
Tiga korban luka diketahui merupakan warga negara India yang berada di area sekitar lokasi serangan. Kondisi mereka dilaporkan mengalami luka tingkat sedang dan telah mendapatkan penanganan medis.
Pemerintah UEA mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” di tengah situasi regional yang masih sensitif. Abu Dhabi juga menegaskan pihaknya berhak mengambil langkah respons demi menjaga keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Sementara itu, Iran membantah secara langsung menargetkan fasilitas minyak milik UEA. Media pemerintah Iran menyebut tidak ada rencana menyerang wilayah Emirat dan justru menuding situasi tersebut dipicu konflik yang melibatkan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz.
Insiden di Fujairah kembali memunculkan kekhawatiran global terhadap keamanan jalur energi dunia. Kawasan Fujairah dan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis distribusi minyak internasional, sehingga setiap konflik di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dan stabilitas ekonomi global.








