Jakarta, 10 Mei 2026 – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Amerika Serikat lebih memilih langkah militer dibanding melanjutkan jalur diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, Araghchi mengatakan setiap kali peluang solusi diplomatik mulai terbuka, Washington justru mengambil tindakan militer yang disebutnya “gegabah”. Ia menegaskan rakyat Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan dari pihak luar.
Pernyataan tersebut muncul setelah meningkatnya bentrokan antara Iran dan AS di kawasan Teluk Persia. Kedua negara saling menuduh melakukan serangan terhadap kapal dan aset militer di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Araghchi juga menyebut peningkatan aktivitas militer AS di kawasan semakin memperbesar keraguan Iran terhadap keseriusan Washington dalam mencari penyelesaian damai. Ia menilai retorika dan langkah militer Amerika justru memperburuk situasi dan memperbesar risiko eskalasi konflik.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan gencatan senjata antara kedua pihak masih berlaku dan diharapkan membuka ruang negosiasi baru. Namun situasi di lapangan masih memanas dengan laporan aksi saling serang antara armada Iran dan pasukan AS.
Ketegangan di Selat Hormuz turut memicu kekhawatiran global karena jalur tersebut menjadi salah satu pusat distribusi energi dunia. Gangguan pelayaran di kawasan itu telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Pengamat hubungan internasional menilai situasi saat ini sangat sensitif karena setiap insiden kecil berpotensi memicu eskalasi lebih besar di Timur Tengah. Banyak negara dan organisasi internasional kini terus mendorong dialog diplomatik guna mencegah konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat.








