Jakarta, 27 Agustus 2026 – Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan terjadinya “percepatan” sebelum Pemilu 2029 menuai perhatian dari elite Partai Golkar. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengaku kaget mendengar pernyataan tersebut, terlebih Budi Arie menyampaikannya ketika berada di samping Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Menurut Doli, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan berbagai tafsir politik apabila tidak segera dijelaskan.
Budi Arie sebelumnya berbicara mengenai kemungkinan terjadinya percepatan dinamika politik nasional. Dalam sebuah forum, ia mengaku memiliki insting bahwa situasi politik dapat bergerak lebih cepat dari perkiraan, sementara selama ini perhatian publik masih tertuju pada Pemilu 2029. Ia juga mengajak para peserta forum untuk mempertimbangkan skenario apabila terjadi perubahan politik sebelum jadwal yang telah ditentukan. Pernyataan tersebut kemudian beredar luas dan memicu perdebatan di ruang publik.
Dalam pernyataannya, Budi Arie juga mengaitkan kondisi tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai “patahan sejarah”. Ia menyinggung adanya berbagai dinamika di masyarakat dan membandingkannya dengan perubahan politik yang terjadi menjelang Reformasi 1998. Menurutnya, kondisi sosial dan ekonomi yang berkembang saat ini perlu diperhatikan sehingga tidak cukup hanya menggunakan skenario politik konvensional.
Pernyataan tersebut mendapat respons dari Doli Kurnia. Ia mengatakan dirinya terkejut karena Budi Arie berbicara mengenai kemungkinan pergantian pemerintahan tidak sampai lima tahun, sementara Indonesia merupakan negara hukum dan masa jabatan pemerintahan telah diatur dalam konstitusi. Doli menilai aturan mengenai masa kepemimpinan harus menjadi pijakan utama dalam kehidupan bernegara.
Doli bahkan menyebut pernyataan tersebut dapat berkembang menjadi tafsir yang lebih serius apabila tidak segera diberikan penjelasan. Ia mengatakan masyarakat dapat mengaitkannya dengan kemungkinan kudeta, makar, hingga dugaan pengkhianatan terhadap konstitusi. Karena itu, Doli menyambut baik klarifikasi yang kemudian disampaikan Budi Arie untuk menjelaskan maksud pernyataannya.
Menurut Doli, Golkar memiliki sikap yang jelas terkait persoalan tersebut. Partai berlambang pohon beringin itu menyatakan tetap berpegang pada konstitusi dan aturan hukum yang berlaku. Golkar juga menegaskan akan berada di garis depan apabila terdapat pihak yang mencoba melakukan pelanggaran terhadap konstitusi.
Doli juga menegaskan bahwa Golkar saat ini memiliki tanggung jawab untuk mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga menyelesaikan masa jabatan lima tahun. Menurutnya, fokus partai seharusnya diarahkan pada upaya membantu pemerintah menjalankan berbagai program dan kebijakan, bukan memperbesar spekulasi mengenai pergantian pemerintahan sebelum waktunya.
Budi Arie sendiri kemudian menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya menimbulkan polemik. Ia menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan percepatan Pemilu 2029 merupakan analisis dan pandangan pribadinya. Budi Arie juga secara tegas mengatakan pernyataan tersebut tidak berkaitan dengan Jokowi, meskipun saat menyampaikannya ia memang duduk di samping mantan presiden tersebut.
Budi Arie mengaku memahami bahwa pernyataannya dapat menimbulkan spekulasi serta salah penafsiran di tengah masyarakat. Karena itu, ia meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman dengan pernyataan tersebut. Ia juga menyatakan siap bertanggung jawab atas analisis pribadi yang disampaikannya.
Klarifikasi tersebut menjadi penting karena posisi Budi Arie sebagai Ketua Umum Projo membuat pernyataannya mudah dikaitkan dengan dinamika politik nasional. Terlebih, pernyataan mengenai percepatan disampaikan di hadapan sejumlah orang dan dalam posisi duduk berdampingan dengan Jokowi. Situasi tersebut kemudian memunculkan spekulasi mengenai apakah pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi atau memiliki kaitan dengan kelompok politik tertentu.
Doli menilai klarifikasi Budi Arie dapat mencegah persoalan berkembang lebih jauh. Menurutnya, tanpa penjelasan, pernyataan tersebut dapat memunculkan tafsir yang beragam dan berpotensi mengganggu stabilitas politik. Karena itu, ia menekankan kembali pentingnya semua pihak berpegang pada konstitusi dalam menyikapi dinamika politik.
Partai Golkar juga menegaskan komitmennya untuk mengawal pemerintahan Prabowo hingga akhir masa jabatan. Doli menyebut partainya akan terus berkonsentrasi membantu pemerintah menjalankan program-program yang telah ditetapkan. Sikap tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa Golkar tidak ingin terseret dalam spekulasi mengenai percepatan pergantian pemerintahan.
Polemic pernyataan Budi Arie pada akhirnya memperlihatkan sensitifnya isu mengenai perubahan jadwal politik nasional. Di satu sisi, Budi Arie telah menjelaskan bahwa ucapannya merupakan analisis pribadi. Di sisi lain, elite Golkar mengingatkan bahwa segala dinamika politik tetap harus berjalan dalam koridor konstitusi dan hukum. Dengan adanya klarifikasi tersebut, berbagai pihak diharapkan tidak menarik kesimpulan lebih jauh mengenai adanya rencana pergantian pemerintahan sebelum waktunya.






