Gaya Hidup “Digital Detox” Jadi Tren Baru 2025: Menjauh dari Layar Demi Jiwa yang Lebih Tenang

Jakarta, 15 Juli 2025 – Di tengah era hiper-digitalisasi yang menyelimuti kehidupan sehari-hari, semakin banyak masyarakat urban Indonesia mulai menerapkan gaya hidup baru: Digital Detox. Gerakan yang menekankan pada puasa penggunaan gawai, media sosial, dan perangkat elektronik ini perlahan menjadi kebutuhan bukan hanya untuk menjaga kesehatan mental, tetapi juga untuk memulihkan hubungan sosial dan keseimbangan hidup.


Dari Kecanduan Digital ke Kebutuhan Detoksifikasi Mental

Menurut laporan dari Lembaga Psikologi Digital Indonesia (LPDI), lebih dari 72% generasi milenial dan Gen Z di kota-kota besar menghabiskan waktu rata-rata 9 jam per hari di depan layar — baik itu smartphone, laptop, atau tablet. Hal ini berdampak langsung pada penurunan kualitas tidur, produktivitas, serta peningkatan kecemasan sosial dan gangguan konsentrasi.

Psikolog klinis, Dr. Ayu Maharani, menjelaskan bahwa digital detox bukan sekadar tren, melainkan bentuk respons alami terhadap kelelahan mental akibat “screen fatigue”.

“Kita hidup dalam dunia yang terus-menerus menuntut respons instan. Digital detox memberi ruang bagi otak untuk beristirahat, untuk hadir di dunia nyata tanpa notifikasi, alarm, atau scroll tanpa akhir,” jelasnya.


Retreat dan Destinasi Digital-Free Tumbuh Pesat

Sejumlah tempat di Indonesia kini secara khusus menawarkan program “digital silence” atau retreat bebas gawai. Beberapa di antaranya terletak di Ubud (Bali), Lembang (Jawa Barat), dan Tawangmangu (Jawa Tengah). Tempat-tempat ini tidak hanya melarang penggunaan ponsel selama kunjungan, tetapi juga menggantinya dengan aktivitas seperti meditasi, yoga, jurnal reflektif, hiking, hingga seni melukis.

“Satu hari tanpa ponsel, seolah hidup kembali bernyawa.” – begitu testimoni banyak peserta program Silence & Soul, retreat digital detox paling populer di Bali yang kini sudah memiliki daftar tunggu hingga 3 bulan ke depan.

Menurut pendirinya, Andhika Giri, banyak peserta yang awalnya skeptis namun berakhir menangis haru setelah menyadari betapa berharganya momen tanpa gangguan digital.

“Beberapa dari mereka menyadari bahwa selama ini lupa rasanya duduk berlama-lama menatap langit, berbincang dari hati ke hati tanpa distraksi,” ujar Andhika.


Praktik Digital Detox Harian: Mulai dari Rumah

Digital detox tidak selalu harus dilakukan di retreat atau lokasi wisata. Banyak orang kini mulai menerapkan prinsip digital minimalism di rumah mereka sendiri. Contohnya:

  • “No Phone Zone”: area rumah seperti kamar tidur atau ruang makan yang bebas perangkat elektronik.

  • “Screen-Free Sunday”: satu hari penuh dalam seminggu untuk tidak membuka media sosial atau aplikasi hiburan.

  • “Analog Hour”: satu jam sebelum tidur khusus untuk membaca buku fisik atau menulis jurnal tangan.

Lia Mustika, pekerja kreatif berusia 29 tahun di Jakarta, telah menerapkan digital detox mingguan selama empat bulan terakhir. Hasilnya? Ia merasa jauh lebih fokus, tidur lebih nyenyak, dan hubungan sosialnya dengan keluarga membaik.

“Saya dulu merasa cemas kalau tidak membuka Instagram dalam satu jam. Tapi sekarang, saya merasa lebih hidup ketika saya meletakkan HP,” tuturnya.


Tantangan: Tekanan Sosial dan FOMO

Meski semakin banyak orang tertarik menjalani digital detox, tidak sedikit pula yang kesulitan meninggalkan layar. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), tuntutan pekerjaan yang terus terhubung, hingga tekanan sosial dari media digital membuat banyak orang merasa bersalah jika ‘offline’ terlalu lama.

Namun pakar teknologi sosial, Nugraha Wicaksono, menekankan bahwa pentingnya membangun digital boundary daripada sepenuhnya memutus koneksi.

“Bukan tentang menjauhi teknologi, tapi tentang mengatur teknologi agar melayani manusia, bukan sebaliknya,” ujarnya dalam forum Digital Wellness 2025.


Kebijakan Perusahaan dan Sekolah Ikut Bergerak

Menariknya, beberapa perusahaan dan institusi pendidikan mulai ikut memfasilitasi gaya hidup digital sehat. Startup teknologi edukasi EduPrime kini menerapkan kebijakan “30 Minutes Digital Break” setiap 3 jam kerja bagi karyawannya. Sementara sekolah internasional di Jakarta dan Surabaya mulai menerapkan hari bebas layar atau Screen-Free Day setiap Jumat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI pun tengah mengembangkan kampanye “Sehat Digital, Sehat Mental” yang akan diluncurkan secara nasional Agustus mendatang, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran literasi digital dan batasan sehat dalam penggunaan teknologi.


Penutup: Menemukan Keseimbangan di Era Digital

Digital detox bukan gerakan anti-teknologi. Ia adalah panggilan untuk menemukan kembali keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata, antara produktivitas dan ketenangan, antara koneksi digital dan kedekatan manusiawi.

Di era ketika semua hal bisa dicapai lewat satu ketukan layar, keberanian untuk berhenti sejenak menjadi tindakan revolusioner. Gaya hidup ini mungkin tidak populer bagi semua orang, tapi bagi yang telah mencobanya — digital detox adalah hadiah terbaik untuk jiwa mereka.

Related Posts

Krisis Air di Selatan Eropa Semakin Memburuk: Spanyol dan Italia Hadapi Kekeringan Terparah dalam 70 Tahun

🌍 Krisis Air Melanda Eropa Selatan: Darurat Nasional Dideklarasikan Spanyol dan Italia saat ini tengah menghadapi kekeringan terburuk dalam 70 tahun terakhir, menurut laporan resmi dari Uni Eropa dan Badan…

“Waspada! Kangkung Bisa Bikin Ngantuk dan Lemas: Ini Penjelasan Ilmiahnya”

Jakarta, 8 Juli 2025 – Sayuran hijau kangkung telah lama dikenal sebagai bagian tak terpisahkan dari menu sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, belakangan ini muncul keluhan dari sebagian orang bahwa mengonsumsi…

You Missed

Menghitung Hari – Krisdayanti: Penantian yang Tak Kunjung Usai

Terbang – Gigi: Harapan untuk Meraih Mimpi

Melompat Lebih Tinggi – Sheila On 7: Semangat Hidup Tanpa Batas

Bhayangkara FC Menang Tipis Atas Persela Lamongan di Laga Ketat

Persita Tangerang Mendapatkan Kemenangan Krusial dalam Laga Sengit Melawan Persik Kediri

Karena Ku Sanggup – Agnes Monica: Lagu Motivasi dan Kekuatan