Uni Eropa Resmi Terapkan Pajak Karbon Perbatasan, Negara Berkembang Peringatkan Dampak Ekonomi

🌍 Langkah Ambisius Iklim UE Picu Ketegangan Perdagangan Global

Per 11 Juli 2025, Uni Eropa (UE) resmi memberlakukan mekanisme baru bernama Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) atau Pajak Karbon Perbatasan, sebuah kebijakan lingkungan yang akan mengenakan biaya tambahan terhadap produk-produk impor yang dianggap tidak memenuhi standar emisi karbon yang berlaku di Eropa. Langkah ini dinilai oleh UE sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi hijau, namun langsung menuai reaksi keras dari negara-negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika.


📄 Sektor dan Produk yang Terkena Dampak

Penerapan CBAM tahap pertama berlaku untuk sektor-sektor padat karbon, antara lain:

  • Besi dan baja

  • Aluminium

  • Semen

  • Pupuk nitrogen

  • Listrik

  • Hidrogen

Produk-produk ini, jika diimpor dari negara dengan regulasi karbon yang longgar, akan dikenai tarif tambahan sesuai jejak karbonnya.


🌐 Reaksi Dunia dan Potensi Ketegangan Dagang

  • India dan Indonesia menyatakan bahwa kebijakan ini “proteksionis terselubung” yang akan menghantam industri nasional mereka

  • Afrika Selatan memperingatkan bahwa ekspor besi dan baja mereka ke Eropa akan menurun drastis

  • Tiongkok menyebut kebijakan ini diskriminatif dan menyarankan WTO untuk meninjau ulang prinsip kesetaraan perdagangan global

  • Brasil dan Argentina menyuarakan kekhawatiran terhadap sektor pertanian mereka yang ikut terdampak secara tidak langsung


📊 Dampak Ekonomi dan Sosial

  • Laporan Bank Dunia memperkirakan negara berkembang bisa kehilangan hingga USD 11 miliar per tahun jika tidak segera melakukan transisi industri hijau

  • Pekerja sektor manufaktur dan logam berat di Asia Tenggara diprediksi paling rentan terkena PHK massal

  • Harga produk berbasis ekspor di UE bisa naik 8–15%, menambah tekanan inflasi dalam negeri


🌱 Tujuan UE dan Justifikasi Kebijakan

  • CBAM bertujuan untuk mencegah “carbon leakage”, yaitu perusahaan memindahkan produksi ke negara dengan regulasi karbon lemah

  • UE ingin memastikan bahwa upaya pengurangan emisi domestik tidak dikompensasi oleh impor produk bermuatan karbon tinggi

  • Kebijakan ini juga mendorong transparansi karbon rantai pasok global, dan mendorong negara lain memperbaiki standar lingkungannya


🔍 Tantangan Implementasi

  • Negara-negara mitra dagang menuntut adanya bantuan teknologi dan finansial, bukan sanksi perdagangan

  • Beberapa perusahaan belum mampu mengukur emisi karbon produk mereka secara akurat

  • WTO menghadapi tekanan untuk menentukan apakah CBAM sejalan dengan prinsip perdagangan bebas dan adil


📌 Kesimpulan

Pajak Karbon Perbatasan adalah langkah berani tapi penuh risiko dari Uni Eropa dalam memimpin transisi energi global. Namun, tanpa dialog adil dan dukungan terhadap negara berkembang, kebijakan ini bisa memperdalam ketimpangan global dan memicu perang dagang baru. Dunia butuh aksi iklim — tapi juga keadilan iklim.

Related Posts

Harga Beras Premium Turun 5% Usai Panen Raya di Jawa Tengah

Semarang, 9 Agustus 2025 – Kabar gembira datang bagi masyarakat Indonesia, khususnya para konsumen beras. Harga beras premium di sejumlah pasar tradisional dan ritel modern tercatat turun sekitar 5% setelah…

Peran Strategis Diplomasi Ekonomi dalam G20 2025 untuk Pertumbuhan Global yang Inklusif

KTT G20 2025 akan diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan, pada November 2025, dengan tema “Solidarity, Equality, Sustainability” yang menekankan pentingnya kerja sama global dalam menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan…

You Missed

Menghitung Hari – Krisdayanti: Penantian yang Tak Kunjung Usai

Terbang – Gigi: Harapan untuk Meraih Mimpi

Melompat Lebih Tinggi – Sheila On 7: Semangat Hidup Tanpa Batas

Bhayangkara FC Menang Tipis Atas Persela Lamongan di Laga Ketat

Persita Tangerang Mendapatkan Kemenangan Krusial dalam Laga Sengit Melawan Persik Kediri

Karena Ku Sanggup – Agnes Monica: Lagu Motivasi dan Kekuatan