Medan, 29 Agustus 2026 – Masyarakat Tionghoa di Kota Medan kembali menggelar Festival Hantu Lapar atau Hungry Ghost Festival di Vihara Gunung Timur, Jalan Hang Tuah, Medan, Kamis (27/8/2026). Perayaan tahunan tersebut menjadi momentum untuk memberikan penghormatan kepada leluhur, orang tua, dan kerabat yang telah meninggal dunia.
Festival yang dikenal dengan nama Zhong Yuan Jie ini digelar pada bulan ketujuh kalender lunar dan mencapai puncaknya pada tanggal 15. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, periode tersebut dipercaya sebagai waktu ketika arwah kembali ke dunia manusia sehingga berbagai persembahan disiapkan sebagai bentuk penghormatan.
Ratusan Warga Hadir
Perayaan di Vihara Gunung Timur berlangsung meriah dan dihadiri ratusan warga. Peserta tidak hanya berasal dari Kota Medan, tetapi juga datang dari sejumlah daerah di luar Sumatera Utara hingga mancanegara.
Kehadiran masyarakat menunjukkan bahwa Festival Hantu Lapar masih memiliki tempat penting dalam kehidupan budaya komunitas Tionghoa di Medan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi keluarga untuk menjalankan ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Persembahan untuk Leluhur
Salah satu bagian utama festival adalah penyediaan berbagai persembahan. Warga menyiapkan makanan, buah-buahan, minuman, dupa, serta berbagai perlengkapan sembahyang untuk diberikan kepada leluhur.
Selain makanan, terdapat pula replika barang yang dibuat dari kertas, seperti rumah, pakaian, dan uang. Barang-barang tersebut kemudian digunakan dalam rangkaian ritual sebagai simbol bekal bagi arwah yang telah meninggal.
Membakar Replika Kertas
Prosesi pembakaran kertas menjadi salah satu pemandangan yang paling menonjol dalam perayaan. Warga membawa berbagai replika dan kertas persembahan untuk kemudian dibakar sebagai bagian dari ritual.
Di tengah pelaksanaan tersebut, warga juga terlihat melemparkan replika uang kertas sebagai bagian dari tradisi. Prosesi ini memiliki makna simbolis dalam kepercayaan yang melatarbelakangi Festival Hantu Lapar.
Menghormati Arwah yang Tidak Memiliki Keluarga
Penghormatan dalam Festival Hantu Lapar tidak hanya ditujukan kepada leluhur dari keluarga masing-masing. Dalam pelaksanaannya, terdapat pula perhatian terhadap arwah yang dipercaya tidak lagi memiliki kerabat yang memberikan persembahan.
Pengurus vihara turut menyiapkan persembahan untuk arwah-arwah tersebut. Hal ini memperlihatkan adanya nilai kepedulian dalam tradisi, yakni memberikan penghormatan tanpa membatasi hanya kepada anggota keluarga sendiri.
Doa untuk yang Telah Meninggal
Rangkaian sembahyang juga menjadi bagian penting dalam festival. Selain memberikan persembahan, warga memanjatkan doa agar para arwah memperoleh ketenangan.
Pada saat yang sama, mereka juga mendoakan keselamatan, kesehatan, serta kelancaran rezeki bagi anggota keluarga yang masih hidup. Dengan demikian, ritual tidak hanya berkaitan dengan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal, tetapi juga menjadi sarana refleksi bagi keluarga yang ditinggalkan.
Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan
Festival Hantu Lapar menunjukkan bagaimana tradisi masyarakat Tionghoa tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman. Ritual yang dilakukan setiap tahun menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Di balik berbagai prosesi yang terlihat unik, terdapat pesan mengenai pentingnya mengingat orang yang telah meninggal, menghormati keluarga, serta menjaga hubungan antargenerasi.
Tradisi Penuh Makna
Perayaan di Vihara Gunung Timur juga memperlihatkan bahwa Festival Hantu Lapar tidak semata-mata mengenai kisah arwah. Bagi masyarakat yang menjalankannya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari penghormatan dan penghargaan terhadap leluhur sekaligus upaya menjaga kesinambungan tradisi.
Berbagai persembahan, sembahyang, dan pembakaran replika kertas menjadi simbol yang menyatukan unsur kepercayaan, keluarga, dan budaya dalam sebuah perayaan tahunan.
Festival Hantu Lapar 2026 di Vihara Gunung Timur, Medan, menjadi potret keberlanjutan tradisi masyarakat Tionghoa dalam menghormati leluhur. Melalui sembahyang, penyediaan makanan, serta pembakaran replika kertas seperti rumah, pakaian, dan uang, warga mengenang mereka yang telah meninggal sekaligus mendoakan keselamatan dan kesejahteraan keluarga yang masih hidup.






